Featured

“Rumah” Baru

Pindah lagi dan mulai lagi dengan semangat baru. Semoga semangatnya nggak cepat luntur!

Bukan rumah beneran yang baru, tapi “rumah” tempat blogging. Blog saya yang lama – typermom sudah terhapus karena lupa bayar iuran tahunannya (saking jarangnya nge-blog sampe lupa punya blog yang berbayar).

Setelah beberapa kali pindah blog dengan mencoba berbagai tema tulisan blog, mulai dari fokus hanya tentang kehidupan sehari-hari, personal thoughts, khusus knitting, khusus review berbagai hal, akhirnya saya tahu saya bisa fokus pada 2-3 hal saja: knitting, makanan, dan fitness. Saya juga suka banget baca buku, mungkin (kalau tidak malas) saya juga mau belajar menulis review tentang buku. Saya juga suka segala hal tentang kecantikan, tapi berhubung muka saya nggak layak tampil, jadi kayaknya nggak cocok jadi beauty blogger 😀

I Knit, Therefore I Exist

Saya mulai knitting sejak Februari 2011 secara otodidak tanpa kursus. Saat itu saya baru 2 bulan pasca melahirkan, jadi nggak bisa kemana-mana.

Awalnya saya hanya bisa crochet. Bisa dibilang itu merupakan warisan keluarga karena oma, tante-tante, dan mama saya crocheter. Semuanya hobi bikin taplak. Jadi di rumah-rumah keluarga kami, nggak ada meja yang telanjang. Semuanya bertaplak.

Agak berbeda dari oma, tante-tante dan mama saya, saya lebih suka merajut baju, topi, sepatu bayi dan aksesoris lainnya. Begitu saya melihat rajutan knitting, wah, love at first sight! Menurut saya knitting untuk wearable kelihatan lebih bagus dan nggak terlalu tebal hasilnya seperti yang terlihat pada crochet. Saya jadi pengen belajar knitting.

Setelah browsing di google dan YouTube, akhirnya saya menemukan “guru” gratis. Saya belajar knitting dengan menonton video tutorial dari channel YouTube VeryPinkKnits, beberapa artikel di Knitty, dan belajar cara finishing dari buku The Finishing School.

Belajar tentang knitting, secara otomatis membuat saya belajar tentang benang juga. Saya jadi rajin membaca berbagai artikel tentang benang: ketebalan benang, jenis-jenis benang, serat benang, cara memintal, dan cara mewarnai benang (yang sekarang saya tekuni).

Saya selalu membawa knitting WIP (Work In Progress) saya kemana-mana. Dulu sih memang agak malu knitting di depan umum, makanya saya lebih pilih membaca buku saja kalau di depan umum. Tapi lama-lama tangan saya gatel, pengen cepat-cepat menyelesaikan WIP, jadinya saya cuek aja biarpun dilihatin orang-orang.

Sekarang saya sedang belajar mendesain pola knitting sendiri. Saat saya menulis blog post ini, saya punya 4 pola yang sudah dirilis di Ravelry. Masih sedikit, masih jauh dari sempurna bila dibandingkan dengan karya desainer-desainer knitting kondang.

I Workout More to Eat More

Saya punya masalah kesehatan: asma. Dulu asma saya sering sekali kambuh, tapi sejak saya lumayan rutin olahraga, asma saya jadi jarang kambuh. Olahraga yang saya lakukan simpel, nggak perlu ke gym. Saya suka lari jarak pendek di seputaran lingkungan rumah sejauh 3km, body-weight workout di rumah menggunakan aplikasi gratis, dan berlatih martial art yang lagi naik daun – Combat – menggunakan DVD di rumah.

Saya nggak pernah berhasil diet karena saya doyan makan. Saya nggak membatasi apa yang saya makan, dan kapan saya makan. Makanya saya harus berolahraga, supaya bisa makan sebebas mungkin 😀

Untuk urusan makan, saya suka masak. Sebetulnya sih lebih cenderung sebagai kewajiban karena saya ibu rumah tangga. Saya lebih suka berurusan dengan kue. Kue kering, kue basah, cake, wah saya suka semua, soalnya saya termasuk penyuka makanan manis.

Saya bukan vegetarian, apalagi fruitarian. Saya suka banyak jenis makanan dan minuman. Jadi saya ingin berbagi cerita tentang makanan di blog ini (bukan berbagi makanannya ya), baik yang saya olah dan masak sendiri, maupun yang saya beli.

Saya nggak bisa memberikan banyak inspirasi di dalam blog saya, tapi mudah-mudahan, setidaknya, tulisan-tulisan yang akan saya post di blog ini lumayan enak dibaca saat senggang 🙂

Dark Grey + Beige, It Works!

What’s your ultimate favorite color for yarn? Me: grey, pink, blue, beige. It’s more than one, I know, because it’s hard to choose just one between them! So I decided to give it a go: combining dark grey and beige in a sweater.

Modeled by my sister

Waistless sweaters are the best!

The pattern I used was Lou Sweater by Sandrine (@sand_meije on Instagram). It has simple but great looking cables and tons of stockinette. The moment I saw the pattern when it was released on Ravelry, I knew I should knit it. For a cooler feeling and a good amount of drape factor, I used Papiput Silky Merino DK in Arang (dark grey) and Agatis (beige). The pattern called for a super woolly yarn, but I’ve got a matching gauge so I wasn’t worried about switching the yarn.

So stretchy and comfy!

The construction is pretty straight forward. Bottom-up seamless with drop shoulders and set-in sleeves that are picked up from around the armholes and work to the cuffs. I love this kind of construction. The split hems with different length of the front and back is also the reason why I like the design.

The hi-low effect

I modified the bind-off with tubular bind-off (this was the first time I tried it) for the neckband and both sleeve cuffs and it’s ah-mazing!


It may look like the cables are complicated, but trust me, they’re just regular basic cables with purls and knits. When I turned the sweater inside out, the wrong side of the cables look very neat. They’re reversible!

I don’t mind making the second one. This design + the Silky Merino DK yarn = ☆☆☆☆☆

This Lou sweater is now officially one of my most favorite sweaters

Summer’s Charm: Linen Yarns

I’m living in a season-less country. There are only 2 kinds of “season” and at the moment, it should be a dry season. But it’s not dry at all because it’s raining every single day in the afternoon and sometimes at night. Even though it’s raining, the humidity is high and the temperature is still above 30C. So, knitting with wool can be a little too warm at these times. Try knitting with linens!

I’ve never tried it before until I dyed them myself. At the first touch, I was like “What to love from this wire-y yarn? Will I enjoy knitting with that thing? Can I wear it?” And other thoughts. But! The truth came out after I made some swatches. When I knitted them, they were unexpectedly act so nice and glide so easily between needles. And after I blocked the swatches, they hold the block perfectly! I seriously have never seen any swatches like those before.

Simple stitches are linens’ best friend

Knitters who has some experience with linens said that the yarn will get softer after each wash. Well it’s still something that I need to figure out by myself. Right now let me just pat the swatches and flap it all around. I just love them.

The linens gave me a new experience too. They made me learn how to dye with reactive dyes. It’s as easy as acid dyeing, but less fun than the wools because I think speckled linens just won’t work. So the linens will be semi-solids. As plain as possible. I enjoyed dyeing them, especially the deep colors.

Freshly dyed deep blue linens!
I was shocked at their drying time. They only need one day to completely dry, unlike the wools that need at least two days. When the sun is on its most powerful shine, the linens just need like 5 hours to dry. How awesome is that!

They have a lot of things to love but many people doesn’t know it yet. For my eyes, the wools are like candies and the linens are like chocolate. They’re beautiful in very different ways. I know another thing that I love about linens: they’re so good to be photographed!

Papiput Linen Yarns Catalog. They look luxurious!

Why not try linens now?

“Pindah” Toko

Sebetulnya Papiput sudah lama punya webstore sendiri. Sejak tahun 2014. Heran kan, kenapa nggak dari dulu aja Papiput jualannya pake webstore sendiri. Saya udah keenakan jualan via Facebook, Etsy, Instagram, dan kadang via Whatsapp karena semua bisa dilakukan via smartphone, dimana aja, kapan aja.

new-tough-sock
Jualan via medsos memang gampang. Tinggal jepret, lalu share. Tapi privasi pelanggan kurang terjaga.
Sejujurnya, jualan via medsos sangat tidak efisien. Yang paling repot adalah harus mengirimkan rincian order pelanggan satu per satu. Semuanya dilakukan secara manual. Ada banyak celah untuk bikin kesalahan. Paling fatal kalau salah menjumlahkan total order. Kalau kelebihan, pelanggan yang rugi. Kalau kurang, saya yang rugi. Belum lagi pengecekan ongkos kirim harus dilakukan manual, via website masing-masing kurir. Mending kalau jaringan internet lagi bagus, kalau lagi jelek ya lama banget kirimin rekap ordernya.

Setelah dipikir-pikir, belanja via webstore akan menjaga privasi pelanggan juga. Karena pelanggan nggak perlu lagi nulis-nulis komentar di foto benang pada Facebook Papiput. Jadi, nggak bakalan ada orang yang tahu, si ini beli apa, si itu beli apa. Kalau via Facebook kan semuanya kelihatan. Si ini nulis komentar di foto benang ini belinya sekian gulung. Trus muncul deh opini atau bahkan gosip dari pelanggan lain, “Wah si A hobi banget jajan benang. Jajannya banyak banget lagi! Pasti benangnya numpuk banyak tuh di rumahnya.”

screen-shot-2017-01-30-at-8-15-33-pm
Proses editing. Puyeng, tapi semangat!
Akhirnya setelah menunda selama 2 tahun (atau lebih, saya sampai lupa), saya mengupdate webstore Papiput. Selain untuk efisiensi, juga untuk menghemat. Tau nggak, jualan via Etsy itu ada beberapa biaya yang “lumayan”. Setiap listing (display produk/item) berbiaya $0.20. Itupun memiliki jangka waktu “tayang” terbatas. Bila tidak diperpanjang dengan membayar $0.20, maka listing tersebut akan terhapus. Lalu bila produk laku terjual, Etsy memotong total penjualan sekian persen. Nggak cuma itu, Paypal sebagai mitra pembayaran resmi dari Etsy, juga memberlakukan potongan sebesar 4% per penjualan. Jadi dengan mengaktifkan penjualan via webstore sendiri, saya harap sih bisa menghemat setidaknya biaya listing dan potongan penjualan dari Etsy. Saya hanya tinggal membayar potongan penjualan dari Paypal sebesar 4%. Lumayan kan!

screen-shot-2017-01-30-at-7-37-36-pm
Foto produk bisa dilihat lebih detil. Asik kan?
Webstore Papiput nantinya nggak cuma melayani pembelian internasional, tapi juga dalam negeri. Tentu saja, pelanggan dalam negeri adalah yang utama. Tapi saya masih harus belajar gimana caranya memberlakukan dua harga pada satu produk. Satu dalam nominal Rupiah, satu dalam nominal Dolar Amerika. Ongkos kirim juga pengennya sih sudah terintegrasi di “cart” pelanggan saat mau checkout. Musti giat belajar nih supaya bisa segera jualan via webstore.

Kapan Papiput akan mulai aktif berjualan via webstore sendiri? Tunggu info selanjutnya ya!

Kamu sendiri lebih suka belanja Papiput secara langsung via webstore atau via medsos? Bagi opininya dong! 🙂

Cocoon (Me) Cardigan: Boxy Lagi Ngetren

Stockinette zombie project – sambil merem pun bisa!

Siiibuuuk! Sebulan belakangan ini saya sedang menyesuaikan diri (termasuk waktu dan tenaga) sama kegiatan-kegiatan baru anak-anak saya. Anak sulung saya sekarang sudah masuk sekolah pagi setelah selama dua tahun berturut-turut masuk kelas yang siang terus. Begitu naik kelas 5 SD dan dia masuk pagi, langsung saya mewujudkan niat yang sudah lama terpendam untuk daftarin anak-anak saya les renang. Mereka les dua kali seminggu, masing-masing selama satu jam. Kalau ditotal sama perjalanan (yang lumayan jauh dan lama karena macet), jadinya waktu untuk les renang per pertemuan adalah 3 jam. Otomatis waktu kerja saya jadi (lebih) terpotong.

Memang itu ya resikonya jadi ibu rumah tangga yang bekerja di rumah. Biar bagaimana juga, family (especially kids) comes first. Tapi jadi nggak enak banget sama pelanggan-pelanggan karena saya banyak menunda pekerjaan. Saya harus bisa bersikap lebih profesional lagi, tidak cuma dalam urusan keluarga, tapi juga untuk urusan toko. Semoga pelanggan-pelanggan saya memaafkan saya.

Ngomong-ngomong, selama menunggu anak-anak les renang, kadang saya menyibukkan diri dengan merajut atau baca buku. Biasanya kalau lagi rame, saya baca buku aja karena masih suka malu dilihatin orang kalau merajut, hehe. Dan berhubung cuaca sekarang ini nggak jelas – disebutnya sebagai musim kemarau “basah” (karena masih hujan terus hampir setiap hari di Depok) – jadinya kalau hujan saya kadang pakai baju atau shawl rajutan. Yang saya paling suka pake belakangan ini adalah Cocoon (Me) cardigan yang didesain oleh Emilie Luis. Saya merajut cardigan simpel ini sebagai test knit untuk designernya.

Jujur, ini project dengan stockinette stitch terrrrrbanyak yang pernah saya rajut! Saya memakai Papiput Tough Sock yarn dengan colorway hasil percobaan; gabungan antara Nusa Dua dengan Mentawai, hehe. Yang bikin bete sih needlenya, karena menurut pola harus pake 3.0 dan 3.5mm. Saya ganti jadi 3.5 dan 3.75mm 😀 Trus saya kasih shaping sedikit di bagian armpitnya. Menurut pola, cardigan ini bener-bener boxy, ga ada shaping sama sekali. Tapi saya ngeri ngeliat segitu lebarnya project dengan stockinette stitch! Jadinya saya bikin decrease tiap Right Side beberapa kali supaya (paling tidak) mengurangi jumlah stitch yang harus dirajut. Untungnya pas ide ini saya tanyakan ke designer, dia setuju. Modifikasi lain yang saya lakukan adalah memotong panjang body. Seharusnya panjangnya sampe pinggul, tapi apa daya, saya udah nggak sanggup merajut stockinette segitu banyak 😥 jadinya saya crop.

cocoon logo 2

Saya suka cardigan ini seamless, polanya juga mudah diikuti. Yang kurang saya suka itu cast on-nya pake teknik crocheted cast on dan itu lebih dari 200 stitches! Mabok banget pas ngebredelinnya, musti pelan-pelan kalo nggak beneran kebredel semua dan musti ngulang dari awal lagi 😀

Tapi akhirnya semua kerja keras itu terbayar dengan tampilan cardigan yang oke. Karena desainnya simpel dan warnanya juga nggak ngejreng, saya bisa pake kemana-mana. Mau coba jadi stockinette zombie juga? 😉

cocoon 5
Adik saya selalu jadi model buat saya 😀
cocoon logo 4
Front bands-nya saya bikin simpel dan tidak terlipat
cocoon logo 5
Bagian badannya boxy, bagian lengannya slim fit. Sempurna untuk menutupi lemak berlebih saya di bagian perut 😀

Eat good food, wear good cardigan!

sign amelia

Finished Object: Prairie Fire Sweater

Test-drive pakai benang baru!

Namanya baju handmade itu kadang bikin sedih ya. Saya bikinin sweater untuk anak saya yang waktu itu berumur 4 tahun sekalian test knit untuk salah satu knitwear designer idola saya, Nadia. Judul sweaternya Gretel, saya pakai benang Papiput Silky Merino Sport. Bikinnya cepet banget karena ukurannya kecil. 2 tahun kemudian, sweater itu kekecilan >.<

Berhubung Papiput lagi ada base benang baru, sekalian deh bikin sweater baru untuk si dede sambil test drive benang Papiput Silky Merino DK pakai warna Nusa Dua. Sebetulnya kurang etis sih ya memuji benang sendiri, tapi ini benangnya emang enak banget dirajut 😀 Lembut banget, mulus pas dirajut, tapi agak split alias pecah.

Oh ya, pola yang saya gunakan itu dari Tincanknits, judulnya Prairie Fire. Saya bikin ukuran 6-8. Saya suka banget Tincanknits karena dia kalau bikin pola, pilihan ukurannya banyak banget. Mulai dari bayi hingga dewasa yang ukurannya super jumbo. Saya yakin dia pasti profesor matematika, ngitungnya jago banget ;D

Polanya gampang, bikin semangat terus ngerajutnya, dan yang pasti: SEAMLESS. Nggak perlu repot rajut sebagian-sebagian dan diakhiri dengan mandek pas waktunya jahit nyambung-nyambungin semua bagiannya. Konstruksinya top-down raglan dan yang paling spesial adalah motif lacenya yang “ngembang” dari satu daun di bagian kerah sampai ada puluhan di bagian hem bawah badan. Keren dan amat sangat jenius!

Jadi agak jealous sama si dede. Pengen bikin juga ah untuk ukuran saya, hehehe.

Click salah satu gambar supaya lebih jelas ya 🙂

Eat good food, knit good sweater!

sign amelia

Review: Me Before You (Novel dan Film)

Nonton filmnya dulu atau baca bukunya dulu? Kalau saya sih baca bukunya dulu baru nonton filmnya. (Efek samping: pas nonton filmnya jadi berisik, spoiler dan komen mulu).  Tapi ada beberapa buku yang saya baca setelah nonton filmnya. Salah satunya Lord of the Ring. Soalnya kebanyakan detail, jadi susah ngebayanginnya.

Yang saya suka dari baca buku tuh ngebayangin sendiri gimana tokoh-tokoh dalam buku itu hidup dalam imajinasi saya, karakter mereka seperti apa, gaya bicaranya seperti apa, setting lokasi di setiap adegannya seperti apa, dan berbagai detail lainnya. Sering, saking kebawa arus imajinasi dan terlalu menghayati ceritanya membuat saya ikut hanyut terbawa emosi.

Salah satu buku yang sukses bikin saya nangis dan gagal move on selama dua hari adalah novel Me Before You oleh Jojo Moyes. Saya membaca versi terjemahan Bahasa Indonesianya yang bersubtitel Sebelum Mengenalmu (rada maksa judulnya).

The Story

Cerita cinta yang berlatar di Inggris ini berawal dari Louisa Clark, gadis periang berselera fashion nyentrik yang pusing mencari pekerjaan baru setelah cafe tempat ia bekerja sebelumnya ditutup. Dia harus bekerja karena sebagai tulang punggung keluarga dia harus menopang biaya hidup ayah, ibu, kakek, adik perempuan dan keponakannya yang kesemuanya, termasuk dia sendiri, tinggal dalam satu rumah.

Louisa diterima bekerja di rumah keluarga Traynor sebagai perawat untuk putra tunggal keluarga kaya raya tersebut. Dia sama sekali tidak punya pengalaman bekerja sebagai perawat, tapi ternyata cuma dalam sekali wawancara kerja dengan nyonya rumah keluarga Traynor, Louisa langsung diterima bekerja di sana untuk merawat Will Traynor.

Will ganteng, kaya raya, anak tunggal (tipikal roman picisan banget), tapi tubuhnya cacat akibat kecelakaan parah yang menimpanya dua tahun yang lalu. Sejak saat itu kehidupannya berubah drastis. Will yang dulunya suka berolahraga ekstrim, sekarang hanya duduk tidak berdaya di kursi rodanya. Dia sama sekali nggak bisa menggerakkan kedua tangan dan kakinya. Hanya kepalanya saja yang bisa sedikit menengok ke kanan dan ke kiri. Seluruh hidupnya bergantung pada orang lain akibat kelumpuhannya.

Will memberi waktu 6 bulan pada orang tuanya sebelum ia “bunuh diri” di Dignitas, sebuah instansi khusus yang mengabulkan permintaan orang-orang yang hidupnya menderita untuk disuntik mati atas permintaan mereka sendiri (tentunya dengan persyaratan khusus dan bukti-bukti medis dan otentik bahwa orang-orang tersebut memang menderita dan meminta agar kematiannya dipercepat).

Singkat cerita, sejak kehadiran Louisa, Will jadi ceria. Mereka jatuh cinta. Tapi ternyata Louisa tidak bisa mengubah niat Will. Will tetap ke Dignitas menjemput kematiannya yang sudah terjadwal.

Louisa patah hati, tapi di sisi lain, dia seperti menang lotre karena semua kekayaan Will diwariskan kepadanya (enaknyaaaa…).

The Novel

Novelnya tebal. Lebih dari 500 halaman. Tanpa menonton filmnya terlebih dahulu, saya bisa membayangkan semua tokohnya serta setting ceritanya. Jojo Moyes emang canggih banget nulis ceritanya. Mengalir, penuh emosi, dan lucu. Sama sekali nggak membosankan.

Pas membaca novelnya, saya membayangkan Will Traynor diperankan oleh Dylan Bruce (mohon cek di Google ya tampangnya seperti apa). Badannya kurus, mata cekung seperti nggak punya harapan dan berkantung mata hitam seperti panda, tulang pipi kelihatan jelas, ekspresi merengut terus.

Novelnya enak banget dibaca. Susah ditaruh. Nggak mau berhenti sebelum dibaca sampai kelar. Terima kasih Jojo, kamu udah bikin saya kepikiran soal Louisa dan Will selama 2 hari. Pas lagi masak keinget, lagi merajut keinget, sampe kebawa mimpi segala! Untuk itu saya kasih poin tinggi untuk novelnya, 9.5 dari 10!

me before you
Novel Me Before You bersama segerombolan benang-benang biru

The Movie

Film Me Before You nggak ditayangkan di bioskop Indonesia, entah kenapa. Beruntung saya punya teman yang hobi mendownload film di internet, jadilah saya nonton bareng di rumah.

Ternyata novel bagus nggak selalu menghasilkan film yang bagus. Banyak adegan yang di-skip, termasuk adegan-adegan yang sebetulnya krusial. Untuk para pemerannya, menurut saya sih Louisa udah oke banget, Will juga oke tapiii.. terlalu segar buat orang sakit. Matanya kurang sayu, badannya kurang kurus, nggak tukang marah-marah seperti yang tergambar di novelnya. Pakaian papa dan mamanya Will juga kurang keren, kurang mewah, pokoknya jauh beda dari bayangan saya pas baca novelnya. Kayaknya tim makeup artist dan wardrobe-nya cuma fokus ke Louisa deh. Tapi untuk setting tempat udah pas. Rumah Will dan rumah Louisa udah pas.

Adegan sedih yang bikin saya nangis pas baca novelnya ternyata gagal bikin saya nangis pas nonton filmnya, padahal saya udah nyiapin tisu. Makanya saya cuma kasih nilai 5 dari 10. Jojo gimana sih kamu, kok filmnya nggak se-hits novelnya.

Unknown
Poster film Me Before You

Kesimpulannya…

Nggak perlu nonton filmnya. Cukup baca novelnya aja. Filmnya cuma terasa seperti rangkuman dari seluruh cerita dalam novel. Ada beberapa quotes yang bagus dari novel Me Before You yang layak disimpan.

sub-buzz-12768-1464896688-1.jpg
Gambar diambil dari Buzzfeed

Setelah saya membaca Me Before You, saya baca novel lain karya Jojo Moyes juga. Kapan-kapan saya tulis deh review-nya (kalo nggak males, hehe).

Kamu juga suka film yang diangkat dari novel nggak? Atau sebaliknya, novel yang ditulis berdasarkan film. Kalau iya, novel/film apa?

Eat good food, read good book!

sign amelia

 

Argh! Matematika!

Misi membuat desain baju knitting sendiri

Beneran, ada banyak itungan matematika di semua pola knitting dan saya nggak pinter matematika (saya anak IPS). Nilai matematika saya jeblok terus, gagal paham melulu.

Karena penasaran gimana proses mendesain baju knitting, saya “beli” video tutorial di Craftsy yang judulnya Handknit Garment Design oleh Shirley Paden. Ternyata, prosesnya terdiri dari banyak tahapan. Yang paling ribet itu itungan matematikanya. Dari sebuah swatch kotak kecil ukuran sekitar 10 x 10 cm trus bisa disulap jadi bentuk sweater, terus bisa dihitung juga kira-kira benang yang terpakai untuk masing-masing ukuran bajunya bakalan abis berapa meter.. kan edan banget! >.< Itungan matematika di pola knitting itu nggak cuma penjumlahan, pengurangan, tapi ada pembagian, perkalian dan beberapa rumus aneh khas knitting.

in white 3 small
2 swatch sedang di-block

Semalam saya sudah bikin swatch dari 2 jenis benang. Yang putih itu pake Papiput Silky Merino DK – undyed dengan motif cable-lace super simpel. Yang warna krem itu pake Papiput Lace 100 warna Agatis, dua helai dirajut jadi satu (double strand), pake motif stockinette biasa. Saya bikin swatch pake 2 jenis benang itu karena kelihatannya mereka cocok dikombinasikan dalam satu sweater.

Mendesain baju knitting buat saya saat ini rasanya kayak rocket science. Mission impossible. Misi bunuh diri. Tapi kalo nggak dicoba kan nggak tahu. Kalo gagal kan tinggal bongkar (terus nangis di pojokan).

Sambil menunggu swatch-nya kering, saya mau mewarnai benang dulu. Terus nanti malam mau movie date sama BFF saya. Udah baca novelnya, dan novel itu sukses bikin saya nggak bisa move on selama 2 hari. Udah mau 2 bulan menunggu kapan DVD (atau free download)-nya ada. Akhirnya nanti malam mau nonton filmnya!

Eat good food, watch good movie!

sign amelia