Saya Malas Buka Instagram Lagi Karena…

Punya akun Instagram kan? Kalau sudah buka Instagram tuh rasanya sepuluh menit gampang sekali berlalu karena banyak yang bisa kita kepoin. Mencari inspirasi untuk knitting bisa nggak habis-habis kalau lihat di Instagram. Sama seperti Pinterest. Dulu saya juga begitu. Total waktu yang saya buang untuk browsing di Instagram bisa sampai satu jam sehari. Tapi sudah sekitar dua tahun belakangan ini saya malas buka Instagram. Kenapa?

1. Urutan Posting Jadi Acak

Dulu, postingan Instagram di feed kita berurutan berdasarkan waktu postingnya. Hal ini disebabkan oleh algoritma Instagram yang berubah. Postingan yang paling baru posisinya ada di paling atas. Jadi semua postingan itu “fresh“. Nah kalau sekarang, postingan seminggu yang lalu aja posisinya bisa ditaruh di paling atas sama Instagram. Semuanya “dihitung” berdasarkan popularitas si pemilik akun ataupun keberuntungan belaka. Jadi jangan harap postingan kita yang lagi liburan selonjoran di pantai sambil knitting semenit yang lalu bisa segera dilihat oleh follower kita. Bisa jadi malah baru dilihat oleh mereka pas kita sudah pulang.

 

2. Yang Galerinya Bagus Belum Tentu Jadi Favorit

Menurut Instagram, sekarang ini nggak perlu lagi punya galeri yang fotonya keren, rapi dan tone-nya seragam untuk jadi populer. Foto ala kadarnya juga bisa jadi tenar karena bantuan si algoritma. Kalau dulu, mayoritas yang followernya banyak adalah akun yang galeri dan fotonya bagus-bagus. Tapi sekarang, salah satu faktor penentu ketenaran suatu akun adalah captionnya. Kalau caption ditulis seadanya (misalnya cuma “Weekend well spent“), atau cuma 2 kalimat, pastinya akan kalah populer jika dibandingkan dengan postingan yang captionnya ditulis panjang seperti makalah atau cerpen. Instagram lebih suka kita menulis caption panjang-panjang. Yah kalau kita orangnya cuma suka ngomong seadanya dan ogah ngalor-ngidul kan jadinya pusing musti nulis apa di kolom caption.

 

3. Engagement Diperhitungkan

Yakin satu jam per hari untuk Instagram itu waktu yang cukup lama? Buat saya sih iya. Tapi Instagram nggak puas kalau kita cuma “mampir” lihat-lihat, browsing, posting, jawab komentar dan membaca/menjawab DM (Direct Messages) selama beberapa menit sehari (itupun kalau sempat). Instagram berkeinginan atau “menuntut” kita untuk selalu segera menjawab semua komentar dan DM yang kita terima agar skor kita tetap tinggi. Skor apa sih yang dimaksud? Itulah yang dimaksud dengan engagement, banyak/sedikitnya respon (dapat berupa view, like dan komentar) di setiap postingan kita, kuantitas waktu yang kita habiskan untuk berselancar di Instagram, kesigapan kita untuk cepat membalas komentar dan DM. Nantinya skor dari engagement itu akan menentukan perhitungan algoritma bagi akun kita. Apakah skor kita cukup tinggi sehingga postingan kita layak untuk dipasang di urutan atas feed Instagram follower kita atau di urutan atas hashtag yang kita tulis. Intinya, engagement akan memengaruhi popularitas akun kita, yang berujung pada perhitungan algoritma akun kita. Wah kalau kita harus selalu sigap dan cepat membalas respon tiap saat, bisa-bisa kita nggak makan, nggak tidur.

 

4. Harus Rajin Berinteraksi dengan Pemilik Akun Lain

Memang sih namanya media sosial, kita harus rajin berinteraksi dengan orang/akun lain. Tapi interaksi ini nggak bisa sembarangan. Kita harus cukup sering di-tag dan di-mention oleh akun lain, serta men-tag dan me-mention akun lain supaya Instagram bisa menilai kita aktif dalam berinteraksi. Seperti di atas, interaksi ini juga masuk dalam rapor algoritma kita. Intinya, kalau mau populer di Instagram, kita musti punya banyak teman di sana. Teman yang mau sering-sering tag dan mention kita. Jangan lupa, kita juga harus rajin memberi like dan menulis komentar yang panjang (tidak disarankan hanya pakai emoji saja) sesering mungkin. Ujung-ujungnya, skor interaksi ini juga akan masuk dalam rapor algoritma.

 

5. Instagram Story Harus Berjalan Sebanding dengan Postingan Reguler

Akun kita baru dianggap aktif oleh Instagram kalau Story (biasa disebut IG Story) kita juga sering diupdate. Memang sih IG Story itu bisa otomatis terhapus setelah 24 jam sejak diupload. Tapi kalau kita memang orangnya nggak suka posting hal-hal sepele, misalnya jajan kopi kekinian atau sekedar selfie saat kena macet, tuntutan untuk update IG Story terasa nggak fun lagi. Satu lagi, IG Story dan postingan reguler harus seimbang. Kalau kita terlalu sering update IG Story tapi nggak pernah posting foto/video reguler, dijamin performa algoritma kita akan menurun.

minumkopi
Minum kopi kekinian + foto diri. Update IG Story sambil terus posting foto/video reguler secara berkala adalah suatu komitmen.

 

6. Belum Lagi IG Live dan IGTV

Ini yang lebih berat lagi daripada IG Story: IG Live dan IGTV. Saya sebagai ibu rumah tangga yang kegiatannya itu-itu melulu setiap hari rasanya nggak pantas untuk menggelar IG Live, apalagi IGTV. Masa mau gelar IG Live sambil jemur baju? Saya sih selama ini baru dua kali menggunakan fitur IG Live. Itupun groginya setengah mati dan rasanya aneh karena seperti ngomong sendiri.

 

7. Banyak Isu Politik, LGBTQIA, Hoax dan Segala Hal Nggak Penting yang Viral

Pilkada Jakarta dan Pilpres menghabiskan energi saya karena banyak isu yang memecah-belah bangsa, pertemanan bahkan persaudaraan. Jangan kira isu politik hanya ramai dishare di kalangan orang Indonesia saja, banyak orang dari negara lain juga ramai share tentang isu politik di negara masing-masing. Belakangan ini isu politik juga banyak dibahas di dunia knitting. Sejak Februari lalu, isu rasisme meramaikan komunitas knitter internasional akibat salah seorang blogger dan Instagram knitting influencer bernama Karen Templer menulis suatu artikel di blognya. Menurut interpretasi banyak orang, tulisan tersebut memiliki makna rasisme yang menyudutkan BIPOC (Black, Indigenous and People of Color). Akhirnya gelombang protes dilancarkan oleh ratusan akun knitter di Instagram yang memprotes adanya rasisme di dunia knitting. Tapi ada banyak juga yang memihak Karen Templer. Perpecahan akibat isu ini memiliki efek bagi saya, jumlah follower saya bertambah cukup signifikan karena, kita orang Asia, termasuk dalam kategori POC (People of Color), atau orang-orang dengan kulit “berwarna”. Tapi sebagai timbal-baliknya, saya diminta untuk menyampaikan opini saya tentang isu BIPOC tersebut. Sebetulnya saya tidak begitu tertarik dengan isu itu, toh saya hanya ingin mencari kebahagiaan saja di dunia knitting dan Instagram. Singkat cerita, komunitas knitter internasional akhirnya terbelah menjadi dua kelompok: kelompok yang mendukung BIPOC dan kelompok yang mendukung kulit putih. Jelimet kan. Lalu sekarang ini “mbahnya” tempat kita beli pola rajutan, yaitu Ravelry, juga ikut menyatakan suara politiknya. Ravelry menentang kebijakan presiden negaranya, Donald Trump yang menurut mereka hanya memihak pada kulit putih atau mempertahankan white supremacy. Jadi sekarang knitting pun menjadi bagian dari aksi politik. Duh pusing. Tadinya mau merajut untuk menghilangkan stres malah jadi tambah puyeng.

Isu LGBT juga ramai diperbincangkan di dunia knitting internasional, yang kini sudah dipanjangkan namanya menjadi LGBTQIA (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer or Questioning, Intersexual, and Asexual or Allied). Siapa sangka knitting yang dulunya banyak dilakukan oleh nenek-nenek, sekarang dilakukan oleh begitu banyak jenis orang, termasuk berbagai macam latar belakang atau orientasi seksualnya. Komunitas knitting internasional banyak mendukung LGBTQIA karena dianggap orientasi seksual adalah hak setiap orang. Nah untuk saya yang hanya menganggap knitting hanya sebagai hobi dan penghilang stres, apa saya perlu ikutan bersuara dalam hal ini? Saya tidak mau dan merasa tidak perlu.

Hoax gampang ditemui di Instagram, bukan hal yang aneh lagi tentunya. Berbarengan dengan si hoax, video-video dan postingan-postingan yang nggak penting tapi viral juga tidak terhitung jumlahnya. Setiap hari, setiap minggu selalu ada hal baru yang viral. Mau di-unfollow tapi kenal, tapi teman, tapi keluarga. Jadi saya lebih baik menyingkir dan menutup aplikasi Instagram saya rapat-rapat.

 

8. Yang Muncul di Feed Itu-Itu Saja

Saya mem-follow ratusan akun, tapi setiap saya membuka aplikasi Instagram, yang muncul selalu postingan dari akun yang itu-itu saja. Seakan-akan saya hanya follow 10 akun. Lagi-lagi itu karena algoritma. Begitu kita like, menulis komentar beberapa kali di postingan satu akun yang sama, Instagram akan menganggap bahwa kita amat menyukai postingan akun tersebut. Akhirnya sama Instagram, feed kita akan selalu diwarnai dengan postingan akun “favorit” kita itu. Lama-lama saya jadi bosan. Lama-lama saya dianggap tidak update terhadap akun lain gara-gara Instagram yang selalu menyuguhkan konten yang selalu sama setiap saat untuk saya.

 

Secara garis besar, itulah beberapa alasan saya malas membuka Instagram lagi. Sekarang ini saya berusaha untuk membuka Instagram saya dan posting secara berkala. Namun saya memposting foto dan caption saya sesuai keinginan saya saja tanpa memikirkan algoritma dan kawan-kawannya. Follower bertambah atau berkurang itu cuma angka. Kebebasan kita – mau posting apa dan kapan adalah hak kita. Saya tidak ingin didikte oleh Instagram.

XOXO,

Author: Amelia Putri

A knitter, yarn-dyer, cat lover, mom to 2 kids, bookworm who loves to run slowly and workout at home

6 thoughts on “Saya Malas Buka Instagram Lagi Karena…”

  1. Couldn’t agree more with you. I have an IG account but I just don’t care about those algorithms and followers. That account is for me to have fun. I don’t care if people see or like what I post. I post what I want to post and when I want to post it.

    Liked by 1 person

  2. Hi Put. I agree with you but we can’t ignore social media. They do give us good & bad info, we just have to be wise in digesting the info.

    About what is going in knitting communities, the related website should be more neutral, it is used by people from all over the world. It should be used to serve the purpose.

    To me, IG sites allows me to see what I want to see, I choose to see all good creatives things done by creative prople. I don’t care about who follows me, I even block an unecessary followers.

    So Put. I would say, just do & show more of your creativities, your talents are admired. Love your creation & love you my dear friend. Keep up the talents you have.

    Your friend,
    Valerie

    Like

  3. Hi Put, to be honest I haven’t really thought much about instagram’s algorithm, so it’s nice to read your post about how it actually affects what we see in our feed.

    I don’t really mind with the algorithm, though, if anything it helps weeding out things and people (!) whose accounts and posts I don’t care about 😅. The engagement algorithm helps because then I only see posts of my friends, and accounts whose topics are ones I’m interested in currently. It does require me to like or comments the posts, but I don’t mind. If that’s what it takes to have those accounts on my feed constantly, why not. That being said, since I don’t open instagram 24/7, I miss a lot of friends’ postings and their posts disappear from my feed.
    It’s true that nowadays it’s not easy to browse through new themes as IG just let us sees most viewed themes, but I think that’s fine, too because just as reading magazines, we only pick ones that we are interested in reading. When I feel like scrolling new themes, I just type in the hashtags I’m interested in and follow those hashtags to get them on my feed. I think when we want to get some sort of amusements and knowledge tidbits, instagram still works for me.

    Post more, Put!

    Like

    1. Hi Pia,

      Thanks for sharing your opinion. There’s always two sides of a story, so it’s nice to hear yours. I mostly use Instagram for my hobby so I’d love to see more variation on my feed. More posts from more people = more inspiration and information. Well at least that’s how it works as for me. I prefer time-wise order because I can get the up-to-date or real-time updates. Regarding friends and family, I prefer to contact them privately and ask them directly on whatever they’re doing. It’s not that I wanted to draw a clear line between social media and real life, but in my opinion, close friends and family are like treasure that needs to be treated more special.

      Please subscribe to my blog so you won’t miss any new posts from me!

      Like

  4. Puput… saya malah baru tahu tentang Algorithm…. selama ini posting ga kepikiran ttg hal itu… jd woles aja … makasih ya sdh kasih tambahan ilmu ttg sosmed… maklum emak2 rumah sok ber sosmed, ga kepikiran followernya berapa dan harus dpt berapa heheh , ada yg sesuai unfollow hehehe kita jaga hati dan happy2 aja ya Put… stay knitting for happy life 😁

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s