Aren Shawl

Demam es kopi susu gula aren masih belum reda. Saya pun suka banget. Tapi saya selalu minta espresso-nya double shot supaya lebih terasa kopinya, es dan gulanya dikurangi. Murah sih, 18 ribu Rupiah saja per gelas untuk ukuran regular, tapi kalau setiap hari beli juga lumayan bikin tabungan bocor halus. Makanya saya belajar bikin kopi susu gula aren sendiri di rumah. Untuk kopinya ternyata kopi arabika lokal Indonesia memang paling cocok. Saya pernah coba pakai kopi Finlandia yang dikirimkan oleh Sini dan Jonna dari Laine. Kopinya terlalu lembut, terlalu light. Eh, tapi saya bukan mau cerita tentang kopi. Saya bukan ahlinya. Kopi susu gula aren menjadi inspirasi saya dalam membuat desain Aren Shawl yang masih belum saya rilis polanya.

Sebetulnya desain ini sudah mulai di-test knit oleh beberapa knitter dan sudah di-tech-edited sejak tahun 2019, tapi saya masih belum yakin apakah saya mau merilisnya, atau mau mengirimkan ide desainnya ke buku atau majalah knitting. Sampai detik ini saya masih belum ambil keputusan juga. >_<

Konstruksi Aren Shawl sama dengan Himawari Shawl. Apakah saya malas belajar untuk membuat konstruksi lain? Sepertinya iya, hehe. Dimulai dengan provisional cast on dari tengah atas lalu melebar membentuk bulan sabit, dan diakhiri dengan motif lace dan cable yang dirajut langsung secara seamless dengan bagian stockinette. Motif lace-nya tidak serumit Himawari, tapi justru itu yang lebih saya sukai. Ukuran besar-kecil shawl juga mudah disesuaikan karena saya membuat desain polanya tidak hanya dalam satu ukuran saja. Oh ya, saya memakai benang Papiput Silky Merino Lace warna Aren, satu gulung saja untuk ukuran seperti yang tampak pada sample.

Ada empat komponen motif yang saya gunakan: stockinette, garter, lace dan cable. Polanya dalam bentuk tulisan Bahasa Inggris dengan diagram motif untuk pinggiran lace dan cable. Polanya juga dilengkapi dengan gambar schematics, perkiraan ukuran setelah shawl di-block.

Kalau kamu masih belum yakin untuk menggunakan benang rajut yang cukup tipis seperti Silky Merino Lace, kamu bisa memakai benang yang lebih tebal, seperti Supersoft Sock atau Tough Sock. Yang pasti, sesuaikan juga dengan ukuran knitting needles dengan ketebalan benang yang akan kamu gunakan. Motif lace sebaiknya pakai knitting needles yang lebih besar setidaknya 0.25-0.75mm dari size yang disarankan.

Sekarang jadi kepikiran:

Apakah saya harus segera merilis polanya?

Apakah saya perlu membuat Aren Shawl kit setelah saya rilis polanya?

Berikan saran dan opini kamu ya 🙂

Si model pake shawl-nya terbalik >.<‘

Knit on!

Author: Amelia Putri

A seasonal knitwear designer, full-time yarn-dyer, cat lover, photographer, video editor, writer, psyche and soma practitioner, mom to 2 kids, a sweet-tooth bookworm who loves to workout at home.

One thought on “Aren Shawl”

  1. mariiii published aja Plus tutorial lengkap buat lazy beginner kayak gw. wkwkwkwk Kan kalo designernya kenal bisa gw minta video call kalo sulit. haha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s