Dark Grey + Beige, It Works!

What’s your ultimate favorite color for yarn? Me: grey, pink, blue, beige. It’s more than one, I know, because it’s hard to choose just one between them! So I decided to give it a go: combining dark grey and beige in a sweater.

Modeled by my sister

Waistless sweaters are the best!

The pattern I used was Lou Sweater by Sandrine (@sand_meije on Instagram). It has simple but great looking cables and tons of stockinette. The moment I saw the pattern when it was released on Ravelry, I knew I should knit it. For a cooler feeling and a good amount of drape factor, I used Papiput Silky Merino DK in Arang (dark grey) and Agatis (beige). The pattern called for a super woolly yarn, but I’ve got a matching gauge so I wasn’t worried about switching the yarn.

So stretchy and comfy!

The construction is pretty straight forward. Bottom-up seamless with drop shoulders and set-in sleeves that are picked up from around the armholes and work to the cuffs. I love this kind of construction. The split hems with different length of the front and back is also the reason why I like the design.

The hi-low effect

I modified the bind-off with tubular bind-off (this was the first time I tried it) for the neckband and both sleeve cuffs and it’s ah-mazing!


It may look like the cables are complicated, but trust me, they’re just regular basic cables with purls and knits. When I turned the sweater inside out, the wrong side of the cables look very neat. They’re reversible!

I don’t mind making the second one. This design + the Silky Merino DK yarn = ☆☆☆☆☆

This Lou sweater is now officially one of my most favorite sweaters

Summer’s Charm: Linen Yarns

I’m living in a season-less country. There are only 2 kinds of “season” and at the moment, it should be a dry season. But it’s not dry at all because it’s raining every single day in the afternoon and sometimes at night. Even though it’s raining, the humidity is high and the temperature is still above 30C. So, knitting with wool can be a little too warm at these times. Try knitting with linens!

I’ve never tried it before until I dyed them myself. At the first touch, I was like “What to love from this wire-y yarn? Will I enjoy knitting with that thing? Can I wear it?” And other thoughts. But! The truth came out after I made some swatches. When I knitted them, they were unexpectedly act so nice and glide so easily between needles. And after I blocked the swatches, they hold the block perfectly! I seriously have never seen any swatches like those before.

Simple stitches are linens’ best friend

Knitters who has some experience with linens said that the yarn will get softer after each wash. Well it’s still something that I need to figure out by myself. Right now let me just pat the swatches and flap it all around. I just love them.

The linens gave me a new experience too. They made me learn how to dye with reactive dyes. It’s as easy as acid dyeing, but less fun than the wools because I think speckled linens just won’t work. So the linens will be semi-solids. As plain as possible. I enjoyed dyeing them, especially the deep colors.

Freshly dyed deep blue linens!
I was shocked at their drying time. They only need one day to completely dry, unlike the wools that need at least two days. When the sun is on its most powerful shine, the linens just need like 5 hours to dry. How awesome is that!

They have a lot of things to love but many people doesn’t know it yet. For my eyes, the wools are like candies and the linens are like chocolate. They’re beautiful in very different ways. I know another thing that I love about linens: they’re so good to be photographed!

Papiput Linen Yarns Catalog. They look luxurious!

Why not try linens now?

Cocoon (Me) Cardigan: Boxy Lagi Ngetren

Stockinette zombie project – sambil merem pun bisa!

Siiibuuuk! Sebulan belakangan ini saya sedang menyesuaikan diri (termasuk waktu dan tenaga) sama kegiatan-kegiatan baru anak-anak saya. Anak sulung saya sekarang sudah masuk sekolah pagi setelah selama dua tahun berturut-turut masuk kelas yang siang terus. Begitu naik kelas 5 SD dan dia masuk pagi, langsung saya mewujudkan niat yang sudah lama terpendam untuk daftarin anak-anak saya les renang. Mereka les dua kali seminggu, masing-masing selama satu jam. Kalau ditotal sama perjalanan (yang lumayan jauh dan lama karena macet), jadinya waktu untuk les renang per pertemuan adalah 3 jam. Otomatis waktu kerja saya jadi (lebih) terpotong.

Memang itu ya resikonya jadi ibu rumah tangga yang bekerja di rumah. Biar bagaimana juga, family (especially kids) comes first. Tapi jadi nggak enak banget sama pelanggan-pelanggan karena saya banyak menunda pekerjaan. Saya harus bisa bersikap lebih profesional lagi, tidak cuma dalam urusan keluarga, tapi juga untuk urusan toko. Semoga pelanggan-pelanggan saya memaafkan saya.

Ngomong-ngomong, selama menunggu anak-anak les renang, kadang saya menyibukkan diri dengan merajut atau baca buku. Biasanya kalau lagi rame, saya baca buku aja karena masih suka malu dilihatin orang kalau merajut, hehe. Dan berhubung cuaca sekarang ini nggak jelas – disebutnya sebagai musim kemarau “basah” (karena masih hujan terus hampir setiap hari di Depok) – jadinya kalau hujan saya kadang pakai baju atau shawl rajutan. Yang saya paling suka pake belakangan ini adalah Cocoon (Me) cardigan yang didesain oleh Emilie Luis. Saya merajut cardigan simpel ini sebagai test knit untuk designernya.

Jujur, ini project dengan stockinette stitch terrrrrbanyak yang pernah saya rajut! Saya memakai Papiput Tough Sock yarn dengan colorway hasil percobaan; gabungan antara Nusa Dua dengan Mentawai, hehe. Yang bikin bete sih needlenya, karena menurut pola harus pake 3.0 dan 3.5mm. Saya ganti jadi 3.5 dan 3.75mm 😀 Trus saya kasih shaping sedikit di bagian armpitnya. Menurut pola, cardigan ini bener-bener boxy, ga ada shaping sama sekali. Tapi saya ngeri ngeliat segitu lebarnya project dengan stockinette stitch! Jadinya saya bikin decrease tiap Right Side beberapa kali supaya (paling tidak) mengurangi jumlah stitch yang harus dirajut. Untungnya pas ide ini saya tanyakan ke designer, dia setuju. Modifikasi lain yang saya lakukan adalah memotong panjang body. Seharusnya panjangnya sampe pinggul, tapi apa daya, saya udah nggak sanggup merajut stockinette segitu banyak 😥 jadinya saya crop.

cocoon logo 2

Saya suka cardigan ini seamless, polanya juga mudah diikuti. Yang kurang saya suka itu cast on-nya pake teknik crocheted cast on dan itu lebih dari 200 stitches! Mabok banget pas ngebredelinnya, musti pelan-pelan kalo nggak beneran kebredel semua dan musti ngulang dari awal lagi 😀

Tapi akhirnya semua kerja keras itu terbayar dengan tampilan cardigan yang oke. Karena desainnya simpel dan warnanya juga nggak ngejreng, saya bisa pake kemana-mana. Mau coba jadi stockinette zombie juga? 😉

cocoon 5
Adik saya selalu jadi model buat saya 😀
cocoon logo 4
Front bands-nya saya bikin simpel dan tidak terlipat
cocoon logo 5
Bagian badannya boxy, bagian lengannya slim fit. Sempurna untuk menutupi lemak berlebih saya di bagian perut 😀

Eat good food, wear good cardigan!

sign amelia

Finished Object: Prairie Fire Sweater

Test-drive pakai benang baru!

Namanya baju handmade itu kadang bikin sedih ya. Saya bikinin sweater untuk anak saya yang waktu itu berumur 4 tahun sekalian test knit untuk salah satu knitwear designer idola saya, Nadia. Judul sweaternya Gretel, saya pakai benang Papiput Silky Merino Sport. Bikinnya cepet banget karena ukurannya kecil. 2 tahun kemudian, sweater itu kekecilan >.<

Berhubung Papiput lagi ada base benang baru, sekalian deh bikin sweater baru untuk si dede sambil test drive benang Papiput Silky Merino DK pakai warna Nusa Dua. Sebetulnya kurang etis sih ya memuji benang sendiri, tapi ini benangnya emang enak banget dirajut 😀 Lembut banget, mulus pas dirajut, tapi agak split alias pecah.

Oh ya, pola yang saya gunakan itu dari Tincanknits, judulnya Prairie Fire. Saya bikin ukuran 6-8. Saya suka banget Tincanknits karena dia kalau bikin pola, pilihan ukurannya banyak banget. Mulai dari bayi hingga dewasa yang ukurannya super jumbo. Saya yakin dia pasti profesor matematika, ngitungnya jago banget ;D

Polanya gampang, bikin semangat terus ngerajutnya, dan yang pasti: SEAMLESS. Nggak perlu repot rajut sebagian-sebagian dan diakhiri dengan mandek pas waktunya jahit nyambung-nyambungin semua bagiannya. Konstruksinya top-down raglan dan yang paling spesial adalah motif lacenya yang “ngembang” dari satu daun di bagian kerah sampai ada puluhan di bagian hem bawah badan. Keren dan amat sangat jenius!

Jadi agak jealous sama si dede. Pengen bikin juga ah untuk ukuran saya, hehehe.

Click salah satu gambar supaya lebih jelas ya 🙂

Eat good food, knit good sweater!

sign amelia

Argh! Matematika!

Misi membuat desain baju knitting sendiri

Beneran, ada banyak itungan matematika di semua pola knitting dan saya nggak pinter matematika (saya anak IPS). Nilai matematika saya jeblok terus, gagal paham melulu.

Karena penasaran gimana proses mendesain baju knitting, saya “beli” video tutorial di Craftsy yang judulnya Handknit Garment Design oleh Shirley Paden. Ternyata, prosesnya terdiri dari banyak tahapan. Yang paling ribet itu itungan matematikanya. Dari sebuah swatch kotak kecil ukuran sekitar 10 x 10 cm trus bisa disulap jadi bentuk sweater, terus bisa dihitung juga kira-kira benang yang terpakai untuk masing-masing ukuran bajunya bakalan abis berapa meter.. kan edan banget! >.< Itungan matematika di pola knitting itu nggak cuma penjumlahan, pengurangan, tapi ada pembagian, perkalian dan beberapa rumus aneh khas knitting.

in white 3 small
2 swatch sedang di-block

Semalam saya sudah bikin swatch dari 2 jenis benang. Yang putih itu pake Papiput Silky Merino DK – undyed dengan motif cable-lace super simpel. Yang warna krem itu pake Papiput Lace 100 warna Agatis, dua helai dirajut jadi satu (double strand), pake motif stockinette biasa. Saya bikin swatch pake 2 jenis benang itu karena kelihatannya mereka cocok dikombinasikan dalam satu sweater.

Mendesain baju knitting buat saya saat ini rasanya kayak rocket science. Mission impossible. Misi bunuh diri. Tapi kalo nggak dicoba kan nggak tahu. Kalo gagal kan tinggal bongkar (terus nangis di pojokan).

Sambil menunggu swatch-nya kering, saya mau mewarnai benang dulu. Terus nanti malam mau movie date sama BFF saya. Udah baca novelnya, dan novel itu sukses bikin saya nggak bisa move on selama 2 hari. Udah mau 2 bulan menunggu kapan DVD (atau free download)-nya ada. Akhirnya nanti malam mau nonton filmnya!

Eat good food, watch good movie!

sign amelia

 

Himawari, Bunga Matahari untuk Jepang

Desain shawl pertama saya sebagai kontribusi untuk Lul Blossom

Berkat dukungan dari teman-teman perajut Indonesia dan teman-teman di Instagram yang begitu besar, pada bulan Oktober 2015 lalu saya membuka toko Etsy yang menjual benang-benang yang saya warnai sendiri. Sekarang ini, Papiput Yarn, merk benang saya telah dijual di Jepang oleh 2 toko: Eylul Yarns dan Yarnaholic. Kedua toko ini menjual berbagai merk benang ternama yang sudah nggak diragukan lagi kualitasnya. Misalnya Moeke Yarns, Zealana, Cascade Yarns, dan masih banyak lagi. Rasanya bahagia banget benang dari Indonesia bisa ikutan mangkal di toko mereka. Enak ya jadi benang bisa jalan-jalan keliling dunia.

Saya lagi senang-senangnya belajar desain knitting. Makanya begitu ada ajakan untuk memberikan kontribusi berupa desain knitting ke sebuah grup desainer knitting di Jepang, saya semangat banget! Semangat tapi agak kuatir sih sebenernya karena saya masih belum berpengalaman. Harus semedi dulu untuk cari inspirasi. Tugas berikutnya adalah menggambar sketsa, membuat swatch, dan yang paling susah buat saya itu adalah ngitung jumlah stitch dan row-nya. Aduh, rumus pitagoras mana bisa dipakeeee…

Untungnya, Yuri, pemilik Eylul Yarns dan penggagas @lul_blossom (grup desainer knitting asal Jepang yang berbasis di Instagram), orang yang asyik diajak ngobrol. Lumayan jadi nggak terlalu grogi dan stres. Dia juga bantu menyumbangkan inspirasi, terutama soal pemilihan warna, saya banyak tanya ke Yuri. Sampai pada akhirnya obrolan ngalor-ngidulnya berujung pada obrolan tentang musim. Di Jepang, kata Yuri, musim panasnya itu lama. Saya tanya, ada nggak yang spesial di musim panas. Misalnya bunga atau makanan khas. Yuri langsung ngasih jawaban dengan semangat, bunga matahari!

Kembali lagi ke meja desain dan kertas coret-coretan. Saya mau bikin desain shawl pertama seumur hidup saya dengan nama Himawari (bahasa Jepang-nya bunga matahari) memakai benang Papiput Silky Merino Lace dengan colorway khusus bernama Mentega. Kuning pastel yang sangat muda, mirip seperti mentega beneran 😀

Waktu menulis draft polanya adalah dua hari, termasuk mencari inspirasi motif, konstruksi, dan bikin swatch-nya. Setelah itu saya langsung mulai merajut keseluruhan polanya, diikuti oleh 5 orang test-knitter. Salah satu testernya adalah teman saya, perajut dari Indonesia. Saya kirimin segulung benang yang sama dengan yang saya pakai, dari dye lot yang sama pula. 4 orang tester lainnya berasal dari Jepang, termasuk Yuri sendiri.

Maaf ya backround-nya jelek banget

Saat saya menulis blog post ini, sudah ada 2 orang tester yang selesai merajut Himawari. Rasanya terharu banget pas melihat hasil karya mereka. Terharu karena ternyata saya bisa menulis pola yang bisa dimengerti 😀 Terharu juga karena ini adalah pola shawl pertama saya.
Himawari Shawl akan dirilis nggak lama lagi di Ravelry, sambil menunggu para tester selesai ngetes polanya. Eylul Yarns akan menjual Himawari Kit berisi benang Papiput Silky Merino Lace dengan colorway Mentega, pola Himawari Shawl, dan sebuah surprise dari Eylul Yarns 🙂

Eat good food, knit good pattern!

sign amelia