Review: Me Before You (Novel dan Film)

Nonton filmnya dulu atau baca bukunya dulu? Kalau saya sih baca bukunya dulu baru nonton filmnya. (Efek samping:ย pas nonton filmnya jadi berisik, spoiler dan komen mulu). ย Tapi ada beberapa buku yang saya baca setelah nonton filmnya. Salah satunya Lord of the Ring. Soalnya kebanyakan detail, jadi susah ngebayanginnya.

Yang saya suka dari baca buku tuh ngebayangin sendiri gimana tokoh-tokoh dalam buku itu hidup dalam imajinasi saya, karakter mereka seperti apa, gaya bicaranya seperti apa, setting lokasi di setiap adegannya seperti apa, dan berbagai detail lainnya. Sering, saking kebawa arus imajinasi dan terlalu menghayati ceritanya membuat saya ikut hanyut terbawa emosi.

Salah satu buku yang sukses bikin saya nangis dan gagal move on selama dua hari adalah novel Me Before You oleh Jojo Moyes. Saya membaca versi terjemahan Bahasa Indonesianya yang bersubtitel Sebelum Mengenalmu (rada maksa judulnya).

The Story

Cerita cinta yang berlatar di Inggris ini berawal dari Louisa Clark, gadis periang berselera fashion nyentrik yang pusing mencari pekerjaan baru setelah cafe tempat ia bekerja sebelumnya ditutup. Dia harus bekerja karena sebagai tulang punggung keluarga dia harus menopang biaya hidup ayah, ibu, kakek, adik perempuan dan keponakannya yang kesemuanya, termasuk dia sendiri, tinggal dalam satu rumah.

Louisa diterima bekerja di rumah keluarga Traynor sebagai perawat untuk putra tunggal keluarga kaya raya tersebut. Dia sama sekali tidak punya pengalaman bekerja sebagai perawat, tapi ternyata cuma dalam sekali wawancara kerja dengan nyonya rumah keluarga Traynor, Louisa langsung diterima bekerja di sana untuk merawat Will Traynor.

Will ganteng, kaya raya, anak tunggal (tipikal roman picisan banget), tapi tubuhnya cacat akibat kecelakaan parah yang menimpanya dua tahun yang lalu. Sejak saat itu kehidupannya berubah drastis. Will yang dulunya suka berolahraga ekstrim, sekarang hanya duduk tidak berdaya di kursi rodanya. Dia sama sekali nggak bisa menggerakkan kedua tangan dan kakinya. Hanya kepalanya saja yang bisa sedikit menengok ke kanan dan ke kiri. Seluruh hidupnya bergantung pada orang lain akibat kelumpuhannya.

Will memberi waktu 6 bulan pada orang tuanya sebelum ia “bunuh diri” di Dignitas, sebuah instansi khusus yang mengabulkan permintaan orang-orang yang hidupnya menderita untuk disuntik mati atas permintaan mereka sendiri (tentunya dengan persyaratan khusus dan bukti-bukti medis dan otentik bahwa orang-orang tersebut memang menderita dan meminta agar kematiannya dipercepat).

Singkat cerita, sejak kehadiran Louisa, Will jadi ceria. Mereka jatuh cinta. Tapi ternyata Louisa tidak bisa mengubah niat Will. Will tetap ke Dignitas menjemput kematiannya yang sudah terjadwal.

Louisa patah hati, tapi di sisi lain, dia seperti menang lotre karena semua kekayaan Will diwariskan kepadanya (enaknyaaaa…).

The Novel

Novelnya tebal. Lebih dari 500 halaman. Tanpa menonton filmnya terlebih dahulu, saya bisa membayangkan semua tokohnya serta setting ceritanya. Jojo Moyes emang canggih banget nulis ceritanya. Mengalir, penuh emosi, dan lucu. Sama sekali nggak membosankan.

Pas membaca novelnya, saya membayangkan Will Traynor diperankan oleh Dylan Bruce (mohon cek di Googleย ya tampangnya seperti apa). Badannya kurus, mata cekung seperti nggak punya harapan dan berkantung mata hitam seperti panda, tulang pipi kelihatan jelas, ekspresi merengut terus.

Novelnya enak banget dibaca. Susah ditaruh. Nggak mau berhenti sebelum dibaca sampai kelar. Terima kasih Jojo, kamu udah bikin saya kepikiran soal Louisa dan Will selama 2 hari. Pas lagi masak keinget, lagi merajut keinget, sampe kebawa mimpi segala! Untuk itu saya kasih poin tinggi untuk novelnya, 9.5 dari 10!

me before you
Novel Me Before You bersama segerombolan benang-benang biru

The Movie

Film Me Before You nggak ditayangkan di bioskop Indonesia, entah kenapa. Beruntung saya punya teman yang hobi mendownload film di internet, jadilah saya nonton bareng di rumah.

Ternyataย novel bagus nggak selalu menghasilkan film yang bagus. Banyak adegan yang di-skip, termasuk adegan-adegan yang sebetulnya krusial. Untuk para pemerannya, menurut saya sih Louisa udah oke banget, Will juga oke tapiii.. terlalu segar buat orang sakit. Matanya kurang sayu, badannya kurang kurus, nggak tukang marah-marah seperti yang tergambar di novelnya. Pakaian papa dan mamanya Will juga kurang keren, kurang mewah, pokoknya jauh beda dari bayangan saya pas baca novelnya. Kayaknya tim makeup artist dan wardrobe-nya cuma fokus ke Louisa deh. Tapi untuk setting tempat udah pas. Rumah Will dan rumah Louisa udah pas.

Adegan sedih yang bikin saya nangis pas baca novelnya ternyata gagal bikin saya nangis pas nonton filmnya, padahal saya udah nyiapin tisu. Makanya saya cuma kasih nilai 5 dari 10. Jojo gimana sih kamu, kok filmnya nggak se-hits novelnya.

Unknown
Poster film Me Before You

Kesimpulannya…

Nggak perlu nonton filmnya. Cukup baca novelnya aja. Filmnya cuma terasa seperti rangkuman dari seluruh cerita dalam novel. Ada beberapa quotes yang bagus dari novel Me Before You yang layak disimpan.

sub-buzz-12768-1464896688-1.jpg
Gambar diambil dari Buzzfeed

Setelah saya membaca Me Before You, saya baca novel lain karya Jojo Moyes juga. Kapan-kapan saya tulis deh review-nya (kalo nggak males, hehe).

Kamu juga suka film yang diangkat dari novel nggak? Atau sebaliknya, novel yang ditulis berdasarkan film. Kalau iya, novel/film apa?

Eat good food, read good book!

sign amelia